Home / Berita Umum / BPCB Jatim Bertindak Atas Penggalian Pemukiman Majapahit

BPCB Jatim Bertindak Atas Penggalian Pemukiman Majapahit

BPCB Jatim Bertindak Atas Penggalian Pemukiman Majapahit – Situs permukiman Majapahit di Mojokerto pernah digali sendiri oleh penduduk. Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Ja-tim lantas menyudahi paksa penggalian itu. Apabila penduduk membandel, mereka bakal dijaring dengan sangsi pidana.

Penemuan situs purbakala di Dusun Pakis Kulon, Desa Pakis, Kecamatan Trowulan, Mojokerto ini berasal dari kesibukan penggalian tanah uruk oleh Basuki Slamet lebih kurang 3 minggu yang silam. Kala menggali tanah kebun di belakang tempat tinggalnya buat menguruk dasar kandang bebek, Basuki menemukannya tumpukan bata merah kuno.

Ia terus melapor ke Pemerintah Desa Pakis. Bukanlah diadukan ke BPCB Ja-tim, Pemdes Pakis malahan memohon Grup Sadar Wisata (Pokdarwis) Kepakisan buat menggali situs itu. Grup ini dibuat Mei 2019 buat meningkatkan kemampuan wisata di desa itu.

” Pokdarwis Kepakisan yg menyambung menggali, ” kata Mulyanto (62) , kakak kandung Basuki terhadap wartawan di area penemuan situs purbakala, Selasa (25/6/2019) .

Diam-diam Pokdarwis Kepakisan menggali 5 titik di kebun punya Basuki serta Mulyanto. Ialah di titik awal penemuan, sisi utara kebun, dan 3 titik di sisi barat kebun. Sampai saat ini kelihatan sejumlah susunan dari bata merah yg awal mulanya terpendam dalam tanah.

Penemuan situs purbakala ini selanjutnya tercium BPCB Ja-tim. Kesibukan penggalian situs permukiman Majapahit ini lantas di stop oleh petugas purbakala. Meski demikian, penduduk serta Pokdarwis Kepakisan kuat mau menyambung penggalian. Mereka berkilah mau membuat situs ini obyek wisata histori.

” Biar diatur desa serta keluarga buat wisata. Biar penduduk sini dapatkan pemasukan, ” kata Mulyanto.

Arkeolog BPCB Ja-tim Wicaksono Dwi Nugroho membetulkan ada kesibukan penggalian oleh penduduk pada situs permukiman Majapahit di Pakis Kulon. Faksinya sayangkan tingkah penduduk yg menimbulkan kehancuran pada situs, walaupun gak sangat kritis.

” Di sini kehancuran gak sangat kritis. Penduduk cuma tak turut proses saja. Walaupun sebenarnya udah ada sosisalisasi di Trowulan tahun 2017, ” terangnya.

Lantaran kehancuran gak sangat kritis, ditambah penduduk udah bersedia menyudahi penggalian, bikin BPCB Ja-tim gak bakal serentak menempatkan sangsi pidana. ” Ide kami dalami pada moment ini. Kami kedepankan pendekatan persuasif serta azas kegunaan, ” papar Wicaksono.

Apabila penduduk kembali nekat menggali situs, lanjut Wicaksono, faksinya gak bakal malas meniti arah hukum. Menurutnya, penggalian situs purbakala tiada izin pemerintah bakalan dijaring dengan Clausal 103 UU RI No 11 tahun 2010 terkait Cagar Budaya. Ultimatum hukumannya maksimum 10 tahun penjara.

” Bila digali sendiri tak bisa. Masuk Clausal 103, lebih Desa Pakis ini masuk daerah cagar budaya nasional, ” tegasnya.

Penggalian atau ekskavasi suatu situs purbakala, makin Wicaksono, cuma dapat dilaksanakan oleh arkeolog dari institusi pemerintah serta instansi penelitan yg udah menyimpan izin dari pemerintah yg berotoritas. Lantaran situs di Pakis Kulon masuk daerah cagar budaya nasional, jadi izin ekskavasi dari Dirjen Kebudayaan Kemendikbud.

” Bila mau memakai dapat dilaksanakan, mesti ada proses izin serta semua ragam lantaran ini masuk daerah cagar budaya nasional. Dengan cara peraturan bisa diatur desa. Desa MoU dengan pemilik area diatur buat obyek wisata, ” jelasnya.

Situs purbakala di Pakis Kulon ini diprediksikan sisa-sisa permukiman Majapahit. Berdasar pada hasil pecahan keramik dari Dinasti Ming, China di area situs, diprediksikan permukiman ini berdiri pada zaman 15 masehi. Permukiman ini dikira rumah para saudagar atau bangsawan lantaran ukurannya besar, udah memanfaatkan atap genteng, dan mangkok keramik import.

About penulis77